Festival Banteng, Warisan Budaya yang Menarik di Spanyol

Festival Banteng, Warisan Budaya yang Menarik di Spanyol

Festival Banteng, Warisan Budaya yang Menarik di Spanyol – Pernakah kamu bingung mengapa Spanyol diucap selaku negara matador? Untuk yang tidak ketahui, matador merupakan suatu pementasan pertarungan antara orang melawan banteng yang dikemas sedemikian muka alhasil orang yang jadi rival banteng, torero, nampak semacam berajojing dengan style yang elok serta gagah dikala menjauhi serudukan banteng. Terpikat buat melihatnya?

Festival Banteng, Warisan Budaya yang Menarik di Spanyol

Matador di Las Ventas, Madrid

almeriacultura – Medio bulan mei sampai akhir bulan Juni, merupakan momen yang pas buat bertamu ke Madrid, Spanyol, terlebih bila bernazar memandang pementasan matador ini.

Melansir kumparan, Sebab dalam bulan itu, Madrid memperingati adat- istiadat apresiasi untuk orang sucinya ialah San Isidro Labrador. Umumnya komunitas torinos( aktivitas yang terpaut dengan banteng) mengutip peluang ini, buat lebih kerap lagi menyelenggarakan pementasan adu banteng.

Baca juga : Festival Budaya Paling Meriah di Spanyol

Pada sesuatu masa panas, kita menyudahi buat merasakan atmosfer nonton dengan cara langsung adu banteng di stadion Las Ventas. Kita ditemani oleh seseorang penggemar torinos, Juan Jose( Juanjo- baca: Huanho), yang bertepatan dengan cara bebuyutan beberapa dari keluarganya membaktikan hidupnya pada bumi torinos.

Sehabis bersandar hening menunggu berjalannya pementasan, seketika Juanjo ambil ucapan serta menceritakan kalau adat banteng di Spanyol lebih dari semata- mata nonton matador.

” Nyatanya, adat banteng di Spanyol lebih dari semata- mata nonton matador,” tutur Juanjo, salah seseorang penggemar torinos.

Dengan bentuk wajah penasaran yang berbaur dengan mimik muka sungguh- sungguh, kita memandang Juanjo. Ia mulai menceritakan dengan wajah yang tidak takluk sungguh- sungguh hal banteng dalam adat Spanyol.

Encierro-adu kabur bersama Banteng

Juanjo menarangkan kalau Spanyol menyelenggarakan sebesar 12. 000 keramaian torinos dalam satu tahun yang beberapa besar diselenggarakan dalam wujud encierro.

Pada intinya, dalam encierro para partisipan hendak adu kabur dengan sekumpulan banteng sembari menggiring sekumpulan itu ke satu tempat. Umumnya, mereka menggiring banteng itu ke satu kandang ataupun stadion matador. Dalam pelaksanaannya di tiap wilayah, mereka hendak mengemasnya cocok dengan kepribadian tiap- tiap wilayah yang berbeda- beda. Menarik, tetapi berdebat.

Untuk yang tidak ketahui, Encierro de San Fermin, merupakan keramaian torino yang sangat ditunggu- tunggu oleh turis di semua bumi. Dengan rancangan kegiatannya yang istimewa serta tidak berdebat inilah yang membuat keramaian San Fermin gampang diperoleh di tengah warga bumi.

Kultur yang dibawa oleh bangsa Romawi?

Juanjo lanjut menarangkan, banteng telah jadi bagian dari adat untuk warga Spanyol semenjak era Romawi. Warga yang bermukim di Iberia kerap kali mendatangi sirkus- sirkus buat memandang pertarungan antara seseorang gladiator melawan seekor fauna, salah satunya banteng.

Apalagi, dahulu gerombolan angkatan romawi dikala berjalan buat menjelajahi sesuatu wilayah senantiasa bawa bersamanya bermacam tipe fauna tercantum banteng serta sapi.

Banteng- banteng itu, tidak hanya dijadikan selaku atraksi hiburan para angkatan, kerap kali pula dipakai selaku centeng awal penyerangan buat mengganggu barak rival.

Tetapi, bagi sebagian ahli, keakraban adat Spanyol dengan banteng malah telah terdapat saat sebelum kehadiran orang Romawi.

Warga Vettones serta kota Coria

Semacam yang kerap dipromosikan Penguasa wilayah Caceres, asal muasal keramaian encierro di Coria bisa ditelusuri jauh ke balik, kala kaum Vettones, salah satu kaum Ibero- Celtic, menghasilkan Coria selaku bunda kotanya.

Kaum Vettones yang pada biasanya merupakan gembala, menyangka banteng selaku fauna yang bersih. Pada dikala merambah masa panas, mereka senantiasa memeriahkan dengan ritual- ritual yang berhubungan dengan api.

Sehabis lebih dari 20 era masuknya pengaruh- pengaruh adat yang lain semacam adat Romawi, Visigoth, Kerejaan Islam, serta Kerejaan Kristen, nyatanya adat itu senantiasa menempel dengan masyarakatnya. Rancangan menyongsong masa panas, ritual dengan api, serta banteng jadi protagonis penting, senantiasa sedang terdapat meski dikemas dengan metode yang berlainan.

Keramaian San Juan de Coria ini terdaftar sudah memperingati encierros semenjak era ke XIII. Keramaian itu sempat jadi salah satu aktivitas torino yang istimewa. Tetapi, tidak beradat.

Dekat 10 tahun yang kemudian, keramaian encierro di Coria diselenggarakan bukan cuma semata- mata bentrok kabur dengan Banteng, namun para partisipan pula melemparkan sebagian“ sopillos”, ialah sejenis karton berupa runjung yang di ujungnya dikasih jarum pentul, alhasil mudah menusuk serta melekat di kulit banteng.

Perihal itu pula terjalin di kota Tordesillas, di provinsi Valladolid yang sepanjang 500 tahun sudah menyelenggarakan encierro, Toro de la Vega, dengan melemparkan puluhan sampai ratusan cengkal ke banteng- banteng yang berlari kesakitan. Aktivitas semacam ini kesimpulannya dilarang pada tahun 2016 sehabis terdapat keluhan dari warga serta terdapatnya dorongan dari penggerak penggemar fauna. Keramaian Toro de la Vega, pada tahun 2016, berganti julukan jadi keramaian Toro de la Pen.

Encierro di kota Cuellar

Penguasa wilayah Caceres bisa jadi bisa mengklaim kalau adat warga Coira telah lengket dengan Banteng semenjak era Ibero- Celtic, namun memo tertua yang berkaitan dengan keramaian encierro malah bukan dari kota Coira. Tetapi, dari kota Cuellar.

Pada tahun 1215, Keuskupan Segovia mengalami bermacam kritikan serta informasi hal prilaku para kalangan rohaniawan Segovia yang telah melenceng. Di sisi itu, nyatanya aktivitas torinos sudah menyebabkan terdapatnya bentrokan di badan Keuskupan Segovia

Beringsang dengan kritikan itu, kesimpulannya Keuskupan Provinsi Segovia menerbitkan suatu pesan ketetapan( sinode) yang pada intinya, mencegah para kalangan rohaniawan buat muncul dalam pertarungan antara orang dengan banteng.

Nyatanya pesan ini cuma menata pola kehidupan rohaniawan di wilayah Segovia, namun memo ini jadi berarti sebab membuktikan kalau pada tahun 1215 aktivitas encierro telah jadi bagian dari adat- istiadat di kota itu.

Banteng- banteng itu dilepas di tepi kota kecil Cuellar serta dikawal oleh para penunggang jaran, sedangkan para partisipan berlari- lari di depan sekumpulan banteng sejauh 6, 5 km buat menggiringnya mengarah satu kurungan yang terdapat di tengah kota kecil Cuellar.

Bagi Juanjo“ ini salah satunya keramaian encierro yang diawali dari pedesaan serta selesai di kota”. Kota kecil yang cuma terdiri dari 10 ribu masyarakat, dapat jadi 3 kali bekuk dikala terdapat keramaian banteng ini.

Banteng serta bola api di Medinaceli

Pementasan yang lazim diucap Toro de Jubilo dirayakan di Kota Medinaceli pada medio bulan November, serta pelaksanaanya dicoba senantiasa pada malam hari, ekstra Juanjo.

Banteng yang hendak diikutsertakan, awal hendak diikatkan pada satu pilar kusen besar, setelah itu hendak diolesi lumpur di wajahnya supaya tidak kena cedera bakar. Terakhir, hendak direkatkan suatu gayung dengan bola api di kedua akhir tanduknya. Sehabis bola terbakar, banteng hendak dilepas, serta hendak berlari terbirir- birit sebab berupaya memadamkan bola api itu.

Bersumber pada informasi dari para golongan penggemar fauna, wujud keramaian yang tidak beradat ini, sudah menyebabkan banteng- banteng itu hadapi luka- luka bakar, bedan serta apalagi jadi tunanetra.

Larut dalam dialog, aku menanya ke Juanjo,” Apakah sesungguhnya warga Spanyol memanglah sepakat dengan perlakuan yang menganiaya banteng- banteng itu?”.

Juanjo menanggapi kalau nyatanya beberapa besar warga Spanyol, tidak sedemikian itu mempermasalahkan penajaan keramaian semacam encierro, sebab pada hakekatnya tidak terdapat faktor penganiayaan kepada banteng- banteng itu.

Namun bila telah dibumbui dengan pelemparan sopillos, cengkal ataupun bola api… pasti aku serta lebih dari 75 persen orang Spanyol tentu hendak menyangkal pementasan yang menganiaya banteng semacam itu”.

Sedang penasaran, aku menanya kembali, tetapi gimana dengan pementasan adu banteng? bukankah ini pula kerap jadi target para penggerak?

Baca juga : Chaharshanbe Suri Kebudayaan Iran Melompati Api

Jawab Juanjo, memanglah ini suatu bimbang, yang pro- torino tentu hendak berkata jika pementasan adu banteng merupakan perlombaan yang seimbang, ini satu rival satu, seseorang orang melawan seekor banteng. Tidak hanya itu, dipercayai kalau aktivitas torino bisa menolong perekenomian wilayah.

Sebaliknya, untuk mereka yang anti- torino ataupun penggerak penggemar fauna tentu hendak berkata kalau telah waktunya buat berlatih dari pengalaman komunitas bebas Andalucia, Asturias, Canarias serta Catalunya yang sudah mencegah aplikasi ini.